Selamat Datang!

Pembaca Penulis Narasi Giovanni

Lihat Tulisan Kirim Tulisan!

Tentang Kami

Pembaca
Kontributor
Pengembangan
Program

Seksi Studi

Mading Online Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII

Blog ini merupakan wadah tulisan bagi para Frater Giovanni sekaligus menjadi Mading Online yang digagas oleh seksi studi dalam program visioner periode 2021/2022 .

Kami mengundang bagi Frater Giovanni untuk berkontribusi dan membangkitkan kembali dunia literasi dalam semangat Aggiornamento .

Services

Admin

Fr. Alfredo Kevin, Fr. Ignatius Ageng, Fr. Lorensius Heri

Development

Fokus pengembangan kami adalah menghadirkan tulisan-tulisan yang dapat memberikan sentuhan perubahan mini bercita rasa kristiani namun berdampak saat ini terkait nilai-nilai kehidupan kepada orang banyak.

Track

Mading online kami tidak hanya melalui blogger tetapi juga media sosial Facebook

Terms of Writing

OPINI: 1. Original, belum pernah dimuat oleh media atau institusi manapun (Terkecuali: Fb, ig dan medsos lainnya) 2. Tidak plagiasi (Ingat Dosa) 3. Menarik dan memantik. 4. Sederhana tapi bermakna. 5. Panjang tulisan 600-1200 kata (Tidak Lebih) CERPEN dan PUISI 1. Tema bebas. 2. Kedalaman (Non multa sed multum) 3. Menarik dan Menyayat Hati QUOTES 1. Kata-kata memantik kesadaran tersembunyi. 2. Silahkan mainkan kata-kata menarik Anda.

Tulisan Kami

Aku yang Lain

OPINI
Oleh: Fr. Dominic Irpan
        Berbicara mengenai sahabat, tentunya kita memiliki segudang pengertian serta jawaban yang ada di dalam benak kita. Namun, apabila kita diminta untuk mewujudnyatakan apa arti dari kata "Sahabat" itu, kita tentu akan berkata, "Saya sulit untuk menjadi seorang sahabat". Sahabat mengandaikan sosok seorang pribadi yang menyadari siapa dirinya dan mengapa ia bisa ada. Hal ini menjadikannya mengerti apa yang diperlukan orang lain sebab ia sendiri juga tentunya mengalami hal yang sama. Hal inilah yang dinamakan sebagai kesadaran manusiawi (Armada Riyanto, 2019:98).

        Ketika manusia menyadari kehadirannya serta secara aktif dan sadar bahwa ia adalah manusia, maka sesungguhnya ia adalah subjek atas dirinya sendiri. Ungkapan "Aku berpikir, maka aku ada" (Cogito Ergo Sum) yang dicetuskan oleh Descartes ini memiliki makna bahwa Aku-Berpikir merupakan perwujudan langsung dari sebuah kesadaran. Manusia yang berpikir menurutnya adalah manusia yang menyadari "adanya" sendiri, sebab dengan berpikir, ia aktif dan hidup. Hal ini bukan berarti mau mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan orang lain, melainkan justru ia menginternalisasikan ke-diri-annya dan menganggap bahwa orang lain adalah "Aku yang Lain". Sekali lagi, seorang sahabat melebihi pemikiran yang kerap kali kita gambarkan. Jadi, dalam hal ini yang hendak ditegaskan ialah bahwa persahabatan mengandaikan relasi satu pribadi dengan pribadi lainnya.

        Bila kita belajar dari para filsuf termasyhur, salah satunya Aristoteles, kita akan mengerti bahwa persahabatan itu mengalahkan keegoisan diri. Jika dua atau tiga orang sahabat tidak lagi melihat keburukan sesamanya sebagai batu sandungan, disanalah termuat makna sahabat sejati yang senantiasa memiliki pengertian, perhatian dan sikap menghormati satu sama lain.

        Pada Minggu ke IV (26 September 2021) kita telah mendalami katekese dalam Bulan Kitab Suci Nasional di pekan yang terakhir. Kita diajak untuk menjadi orang Kristen yang sejati. Kristen sejati maksudnya ialah meneladani Kristus yang senantiasa menjadi sahabat bagi semua orang. Ia adalah contoh seorang sahabat yang sejati. Ia rela mengorbankan diri-Nya demi kita semua; semua itu tidak terlepas dari CINTA. Cinta kasih menjadi landasan utama persahabatan yang diajarkan Yesus Kristus. Begitu indah Cinta-Nya terhadap kita melebihi keindahan cinta yang biasa diberikan oleh seorang kekasih. Sampai pada akhirnya, gambaran akan keindahan dan segala cinta seorang sahabat itu sendiri tak mampu terlukiskan!

Menanti Hingga Pergi

PUISI
Oleh: Fr. Adrianus Nero
Malam ini, dibawah sinar rembulan
Aku melihat sepengal kisah
Kisah masa lalu, Aku dan Kamu
Bersama angin malam
Ditemani sinar rembulan
Aku termenung
Mengingat sepenggal kisah
Yang membuat kita harus berpisah
Aku tahu
Bahwa itu adalah masa lalu
Yang tidak mungkin menjadi satu
Namun, aku yakin
Pada suatu saat nanti
Kita bersatu kembali
Walaupun harus menunggu
Hingga ajal menjemput
Dan membawaku pergi.

Sahabat

 QUOTES

Oleh: Fr. Ariberto
"Sahabat sejati bukanlah mereka yang menuntut banyak persamaan, tapi mereka yang memiliki pengertian terhadap setiap perbedaan."

Menatap dari Kejauhan

 OPINI

Oleh:
Fr. Mario More Senda
Seluruh manusia sulit bebas bergerak di masa pandemi. Gerakan virus terus menyerang setian bagian kehidupan menghadang dari dapur sampai pasar. Berbagai cara pernyataan perang terhadap virus terus berjalan. Tidak ada pilihan tanpa pengorbanan dan saat ini pengobanan terberat sekaligus paling tidak enak adalah pembatasan gerak manusia. Ketika kemajuan teknologi transportasi mengedepankan kecepatan, kenyamanan, dan mobilisasi tanpa batas, harus tunduk pada pembatasan gerak untuk melakukan penanganan virus. Manusia seakan mengalah pada situasi dan hidup dalam lingkaran tanpa gerak yang jelas.

Di Indonesia sendiri bentuk penanganan melalui pemberlakuan PPKM. Hingga saat ini belum ada kejelasan pasti kapan PPKM akan berakhir. PPKM mestinya selesai pada 19 Juli tetapi terus diperpanjang. Meskipun dalam berbagai data kasus kematian dan kasus positif terus menurun tetapi virus ini sepertinya tidak ingin mengalah. Virus ini terus menaikkan ekor dan terus bertarung. Jelas tidak ada yang ingin mengatakan PPKM adalah solusi jitu. Beban utang negara terus naik hingga 991,3 triliun dan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional 2022 terus turun drastis yakni dari 322,2 triliun turun 56,6 persen sejak PPKM berlaku. Tidak ada pihak yang diuntungkan dengan kebijakan ini, tetapi tidak juga yang ingin mengutamakan uang di atas jiwa manusia. Eksistensi manusia jauh lebih tinggi dari berbagai kepentingan.

Hidup tanpa kepastian, memasukan manusia dalam kerumitan, kekacauan, dan berbagai persoalan. Bentrokan antara kehendak pribadi dan kepentingan publik belum menemukan titik temu. Manusia berhadapan dengan pilihan rumit, ketika bertahan hidup harus ditegakkan dari pada menjalankan aturan tanpa tahu kapan berhentinya. Boleh dibilang kebijakan PPKM malah menambah beban kehidupan yang sudah banyak mengalami kerumitan mulai dari masalah jasmani hingga masalah rohani. Kondisi rumit tidak pernah lepas dari manusia. Manusia itu sendiri adalah rumit untuk dipahami dan dijelaskan. Manusia hidup dalam kerumitan dan berkembang justru menghadapi kerumitan dan kekacauan. Hanya tingkat kerumitan setiap pribadi berbeda bergantung pada situasi. Walaupun sudah terbiasa dengan kekacauan dan kerumitan tetapi tidak ada manusia yang tidak satupun manusia yang ingin tinggal dalamnya. Manusia selalu mencari cara agar dapat menangani kerumitannya.

Sebagai bagian dari manusia yang hidup di saat pandemi, saya sesekali mencoba menengok pandangan kaum Stoa, ketika berhadapan dengan dunia yang penuh gejolak dari pada terus bersedih dengan berbagai kendala yang ada. Bagi mereka manusia harus mempunyai sikap tenang untuk menaklukkan situasi kacau. Tenang bukan berarti kondisi tanpa ruang gerak, hening, dan suatu tindakan askese. Tenang adalah tindakan berpikir. Suatu teknik yang membawa setiap insan harus terbang tinggi untuk menatap kerumitan dari kejauhan. Teknik yang mengajari cara berdamai dengan situasi.

Seperti Elang yang menyadari betapa mudahnya melihat situasi di daratan ketika berada dikejauhan. Stoisisme memandang dunia dari kejauhan lalu menyadari betapa kecilnya dunia hingga semuanya terpampang jelas. Elang yang terbang dari ketinggian dapat melihat mangsanya dengan jelas dan seketika itu melakukan suatu pilihan antara menerjang atau menunggu dengan sabar hingga mangsa menunjukkan titik lemahnya. Dari kejauhan itulah Elang menentukan cara terbaik untuk mendapatkan mangsa. Para stoisisme menyadari pentingnya untuk keluar dari kerumitan dunia. Dari kejauhan itu tercipta jarak antara kerumitan dan dirinya yang sedang rumit. Bukan berarti manusia harus lari tetapi dari kejauhan itulah manusia akan menyadari betapa dirinya adalah bagian dari dunia. Dan kunci dari keberhasilan adalah ketenangan.

Seperti Elang yang menyadari betapa mudahnya melihat situasi di daratan ketika berada dikejauhan. Stoisisme memandang dunia dari kejauhan lalu menyadari betapa kecilnya dunia hingga semuanya terpampang jelas. Elang yang terbang dari ketinggian dapat melihat manggsa dengan jelas dan seketika itu melalakukan suatu pilihan antara menerjanga atau menungugu  dengn sabar hingga mangsa menujukan titik lemahnya. Dari kejauhan itulah Elang menentukan cara terbaik untuk mendapatkan mangsa. Para stoasisme menyadari pentingnya untuk keluar dari kerumitan dunia. Dari kejauhan itu tercipta jarak antara kerumitan dan dirinya yang sedang rumit. Bukan berarti manusia harus lari tetapi dari kejauhan itulah manusia akan menyadari betapa dirinya adalah bagian dari dunia. Dan kunci dari keberhasilan adalah ketenangan.

Stoisisme agaknya sesuai dengan pernyataan “Selesaikan masalah dengan kepala dingin”.  Marah terhadap situasi tentunya bukan solusi yang baik. Amarah menutup tindakan berpikir dan dapat menimbulkan suasana kacau. Marah dalam takaran tanpa berpikir merupakan tindakan irrasional. Metafora otak dingin mempunyai arti kemampuan untuk menguasai situasi bahkan tidak terpengaruh olehnya. Persis seperti pandangan Stoisisme ketika berhadapan dengan situasi yang kacau, masa pandemi merupakan situasi kacau. Banyak orang kurang mampu menguasai situasi pandemi. Pada akhirnya keluhan disana-sini. Oleh karenanya dari pandangan Stoisisme tentang memandang suatu persoalan dari kejauhan dapat menjadi referensi yang baik.

Pertama, menatap persoalan dari jauh merupakan tindakan untuk berpikir. Pada dasarnya manusia merupakan bagian dari dunia. Manusia terlempar dalam dunia dan menyatu dengan  dunia yang sudah memiliki tatanan. Manusia tidak mampu melawan tatanan dunia tetapi wajib menyatu dengan tata dunia. Oleh karenanya kegiatan berpikir berperan bukan untuk mengubah sesuatu melainkan untuk menguasi dan memahami secara mendalam. Ketika berhadapan dengan situasi kacau kegiatan berpikir hendaknya mendapatkan tempat. Melalui kegiatan berpikir inilah kemampuan sebagai makhluk yang terlempar dalam dunia mempunyai arti. Manusia tidak menjadi objek dari alam tetapi sejajar dengan alam, sehingga kekacauan dunia tidak menguasai manusia tetapi memberi kesempatan untuk memikirkannya dan mencari jalan keluar.

Kedua, melihat persoalan dari kejauhan juga mempunyai arti proses memilah. Ada banyak pilihan untuk memutuskan menahan diri atau bertindak. Seperti Elang yang terbang di kejauhan dan menatap mangsa. Ia akan memilih antara menerjang atau memantau kembali  keberadaan mangsa. Mungkin ada yang berkata, semua pilihan itu baik tetapi apakah yang baik itu baik? memilah berarti menjauhkan yang mengandung kemungkinan terburuk dan menentukan yang mengandung nilai paling tinggi. Memilah mana yang dapat dikerjakan? Tentu saja yang mampu dan dalam kadar kewarasan. Semua tawaran nampaknya baik, logis, dan sangat rasional tentunya baik hanya saja jika kesimpulan yang dihasilkan tanpa proses berpikir yang matang kesimpulan itu dapat keliru.

Ketiga, pengambilan makna. Kekacauan akan menjadi lebih kacau jika tidak mempunyai kecakapan untuk memetik sesuatu yang paling bermanfaat dari sesuatu yang kacau. Banyak orang gagal keluar dari situasi sulit karena tidak mampu memaknainya. Terbelenggu dan terus memikirkan tanpa menemukan suatu yang mendorong untuk berdamai dan bertindak. Dalam pandangan Stoisisme manusia berkaitan erat dengan dunia yang sedang ia hadapi. Manusia mumpunyai peran untuk mengusahakan segala sesuatu agar lebih baik tanpa mengubah tata dunia, karena manusia tidak mempunyai kemampuan untuk kes ana. Semakin tumpul proses pencarian makna, maka semakin sulit pula untuk keluar dari suatu persoalan dan yang ada adalah manusia hanya berputar-putar dengan pikirannya.

Dari ketiga bagian itu mempunyai suatu kunci yaitu ketenangan. Di sini ketenangan menentukan keputusan yang akan diambil. Ketenangan hadir menyatu dengan situasi, namun tidak juga larut dalam situasi. Ia seperti air, tidak menunjukkan kedalamannya tetapi dari kejauhan semua dapat mengerti bahwa ia memiliki kedalaman. Tenang tidak dikuasai oleh situasi, ia mengambil jarak sekaligus menyatu dengan situasi. Dari ketenangan itulah   lahirlah cara berpikir, cara memilah, dan cara mengambil makna, karena mempunyai kemampuan untuk bersatu dengan situasi sebagai yang melihat dari jauh lalu mengambil cara untuk menilai.

Tentunya tidak ada cara instan untuk menemukan cara menguasai kekacauan yang sedang dihadapi. Berkaitan dengan kegiatan berpikir, memilah, dan menemukan makna merupakan suatu proses yang perlu dilatih. Beberapa cara yang cukup membantu adalah menemukan pikiran paling dominan, lalu mencatatnya dalam sebuah jurnaling, kemudian memilah mana yang baik dan buruk, lalu menemukan makna, misalnya dari rangkaian peristiwa itu, apa yang dapat dipelajari untuk kehidupan. Sederhananya kaum Stoa menawarkan cara keluar dari kekacauan baik dari dalam diri dan luar diri dengan cara Refleksi.

Tulisan ini memang tidak mengajak siapapun untuk hidup begitu saja di masa pandemic, tetapi mengajak banyak orang untuk memikirkan kembali semua tindakan, semua gejolak, emosi, semua informasi di masa pandemi. Yang menulis bukan ahli kesehatan tetapi memiliki pilihan tersendiri ketika berhadapan dengan situasi di masa pandemi. Setidaknya perlu untuk memikirkan banyak aspek di kehidupan ini, memikirkan banyak orang, dan alam semesta. Cobalah untuk terbang ke angkasa, jauh dari tanah dan kemudian lihatlah dunia, dari  sana terpampang jelas bahwa dunia adalah satu kesatuan, dunia bukan satu aspek saja. Jadi berpikilah seluas mungkin, pilihlah yang paling aman, dan carilah makna agar hidup terus berjalan dengan arah yang tepat. 

Kehampaan

CERPEN

Oleh: 
Fr. Meriyadi Tanggok
Di pagi yang cerah menyajikan panorama langit berwarna biru muda bersambut hembusan angin yang mulai menggetarkan jiwa. Nuansa pagi ini sangat jernih sama seperti kemarin. Senyum dan canda tawa terukir jelas di pagi ini. Suasana yang ramai kicauan merdu burung-burung, teman-teman berjalan riang untuk segera berangkat ke sekolah dengan penuh sukcaita dan Radka pun segera bersiap mengikuti langkah-langkah yang telah mendahuluinya.

Hari-hari yang Radka jalani penuh kebahagiaan serta keceriaan serasa hidup ini begitu sempurna, namun seketika kebahagiaan dan keceriaan ini pupus. Kini Radka hanya mendapatkan kesedihan yang amat mendalam. Ia tidak bisa merasakan lagi indahnya kehidupan yang pernah ia jalani dulu. Di usia yang masih tergolong muda, Radka harus mengalami pahitnya kehidupan, di mana kedua orang tuanya harus meninggalkannya begitu cepat untuk selama-lamanya, dikarenakan kecelakaan maut yang menyebabkan kedua orang tuanya tewas di tempat, ketika hendak pulang ke rumah. Hampir setiap hari Radka menangis karena merindukan orang tuanya. Radka hanya bisa berpasrah untuk menerima semua yang ia alami. Sebelum ia ditinggalkan orang tuanya, setiap harinya ia menjalani kisah hidup yang penuh dengan canda tawa, namun kini semua telah berubah.

Suatu hari, Radka pindah ke desa di mana ia akan diasuh oleh neneknya. Saat itu, Radka masih mengalami duka semenjak ditinggalkan oleh orang tuanya. Ia juga harus menjalani kehidupan baru sebagai murid di sekolah barunya. Ketika Radka ingin pergi ke sekolah, ia selalu mencium kedua tangan orang tuanya, tetapi sekarang Radka tidak dapat merasakan itu lagi, karena kasih sayang yang telah hilang dan pupus seiring kepergian kedua orang tuanya. Radka menangis dan kecewa terhadap apa yang ia alami. Setiap hari Radka harus berjalan kurang lebih 2 Km jauhnya perjalanan menuju sekolah. Dengan keadaan ekonomi yang dialami oleh neneknya mengharuskan ia berjalan kaki. Berbeda dengan anak lainnya yang selalu diantar kedua orangtuanya.

Di saat Radka ingin pergi ke sekolah, ia selalu memeluk neneknya. Ia membayangkan bahwa yang ia peluk adalah orang tuanya. Ia hanya bisa menahan tangis dan meredam perasaan sedih dengan raut wajah yang merah. Sebelum ia pergi, ia berkata kepada neneknya, “Nek, aku berangkat dulu ke sekolah! Semoga nenek sehat-sehat saja ya di rumah!” Radka mengucapkan dengan hati tulus dan ia langsung meninggalkan sang nenek. Nenek adalah sosok yang amat berarti bagi hidupnya sekarang, karena hanya neneklah yang ia punya.

Lonceng masuk pun berbunyi, Radka segera memasuki kelasnya. Namun ketika kegiatan belajar mengajar, Radka hanya melamun dan tidak focus dalam mengikuti pelajaran tersebut pada hari itu. Tanpa ia sadari sang guru menegurnya dan bertanya, “Apa yang sedang kau pikirkan Radka?” guru bertanya dengan serius sampai ia tidak menyadarinya, dan salah satu teman yang duduk disebelahnya menyenggol dengan sikunya, “Tidak apa-apa, Bu” jawab Radka sontak. Bukan tanpa alasan Radka melakukan itu, sebab Radka masih belum bisa mengikhlaskan orang tuanya pergi dengan cepat meninggalkannya. “Apa yang salah dengan semua ini? Gerutu Radka. Lagi-lagi alam semesta tidak berpihak padanya, sosok nenek yang sungguh menyayanginya selama ini, kini harus meninggalkannya pula. Radka tidak bisa menerima kembali kepedihan ini. Ia merasa bahwa Tuhan tidak mencintai dirinya, setelah kepergian kedua orang tuanya, kini ia harus kehilangan neneknya.

Hari kian berlalu, kini Radka beranjak dewasa dan memahami arti kehidupan yang ia jalani. Ia tahu hal-hal yang dulunya menyenangkan, bahkan hal itu menjadi sesuatu yang selalu ia sebut dalam doa. Entah mengapa sekarang tidak semenarik lagi yang ia lakukan itu dan seolah semua terasa kering dan biasa-biasa saja. Radka baru menyadari bahwa ia Lelah, mungkin hidupnya jauh lebih berat, alih-alih hidup sebagai insan, ia merasa kesepian yang ia lakukan hanyalah rutinitas semata setiap hari.

“Lelah juga yaa…” keluhnya. Sambil menyandarkan kepalanya di dinding kamar, “Pak, Ibu, ini aku putra kalian Radka, rasanya sudah lama ya…Bapak dan Ibu meninggalkan aku! Aku baik-baik saja di sini, jangan khawatirkan aku. Jadi aku harap kalian baik-baik saja di surga. Pak, Ibu, aku ingin curhat kepada kalian tentang hari ini. Banyak hal yang telah kulalui, aku percaya Bapak dan Ibu pasti mendengarkan suaraku. Umurku sekarang sudah 25 tahun. Tapi entah mengapa di umur ini, aku belum bisa bertanggungjawab atas hidupku bahkan masa depanku. Kenapa Bapak dan Ibu tidak pernah cerita, kalau aku tumbuh dewasa akan mengalami kepahitan hidup yang sulit ini. Pak, Bu dikehidupan selanjutnya aku berharap semoga kita terlahir kembali!” gumamnya.

Semakin dewasa Radka, semakin dituntut untuk menyelesaikan masalah sendiri dan sabar serta terlihat baik-baik saja. Sehancur apapun keadaannya, Radka berusaha keras untuk menjalani hidup sebaik-baiknya dan Radka tidak pernah tahu untuk hidup bahagia terkadang ia perlu mengakui bahwa ia tidak sedang baik-baik saja. Ia hanya perlu menerima bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan. Ada kalanya ia belajar untuk ikhlas dan mengerti bahwa hidup memang tak selalu sejalan dengan apa yang ia mau. Ia perlu merasakan apa itu jatuh agar mengerti bagaimana caranya untuk bangkit. Radka perlu merasakan apa itu gagal, agar menghargai setiap proses perjuangan, karena berusaha menjadi lebih kuat dari apa yang ia sedang rasakan hanya akan membuat hati lebih Lelah. Jika hari-hari yang dilalu Radka terasa lebih berat, ia lebih memilih untuk menangis. Ia merasa menjadi manusia gagal juga bagian dari manusia. Radka selalu berdoa kepada Tuhannya agar hatinya selalu dikuatkan.

Radka menyadari bahwa ia lelah, dia yang hatinya penuh dengan trauma ditinggalkan oleh orang yang ia cinta lebih memilih memendamnya sendiri. Radka juga yang terlalu lelah untuk menahannya dan ia memilih untuk menangis. Ia mengadu pada Tuhannya, ia tumpahkan segala keluh kesahnya lalu ia berdoa “Ya Tuhan…dosaku amatlah besar kepada-Mu, tetapi amalku tak sebanding dengan dosa yang aku perbuat, aku malu karena hanya datang di saat aku sedang mengalami masalah. Tapi bukan kepada Engkau, kemana lagi aku akan mengadu. Maka, kumohon ampuni aku Tuhan, peluklah aku dengan kehangatan-Mu, jadikan aku manusia yang sabar dan ikhlas atas segala ketentuan. Kuatkan hatiku karena hanya kepada-Mu lah tempat yang sempurna di mana aku dapat berharap.

Suara

PUISI

Oleh:
Fr. Hendrikus Pebriantinus Liman
Jiwa ku terpukau mendengar suara
Suara yang tak pernah ku kenal memanggilku
Tersentak hatiku tergerak oleh suara itu
Aku mulai mengikuti-Nya

Aku terus menggikutinya dari belakang
Ternyata ku terbuai mencekam
Seperti ombak yang hendak menghantam
Hanya riuh cemas ku dapatkan

Suara tak ku dengar
Hilang lenyap dalam kegelapan malam
Aku merintih ketakutan
Hingga aku kaku terdiam

Samar-samar suara, ku dengar lagi
Aku terus mencarinya tanpa kata terucap
Keajaiban diam tiba
Suara itu terus memanggil
hingga aku menemukan-Nya dalam keheningan

Malang, 19 September 2021 

 

Santai

QUOTES

Oleh:
Fr. Firdaus Galang Sumampoa
Hidup itu santai kalau mati ya sudahlah, mau gimana lagi?
Tetaplah pada skenario yang kontekstual.
Jalani hidup dengan sebatang rokok di tangan dan secangkir kopi di meja.
Karena, apa yang ada sekarang sudah diatur oleh Sang Sutradara Ilahi.....

Kirim Tulisan

What's App:

+62817-0318-8444 (Kalam)

Alamat:

Jl. Sigura-gura Barat, No. 2 Karang Besuki (Seminari Tinggi Interdiosesan Giovanni XXIII),
Malang, Jawa Timur

Email :

narasigiovanni@gmail.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog